Total Tayangan Halaman

Minggu, 17 Februari 2019


Indonesia Tempatnya Orang-Orang yang Bertaqwa?
Penulis: Panji Anugerah
            ‘’ Wahai Manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan kemudian kami jadikan kamu bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa, sungguh Allah maha mengetahui, Maha teliti” (Q,S. Al-hujurat ayat 13).
            Dengan segala ampun kepada Tuhanku dan memohon izin kepada asatidz, habaib beserta guru, saya sedikit mencoba memaknai Firman Allah Surat Al-hujurat ayat 13 walaupun sampai sekarang akan gagal memaknai dan menafsirkannya.
            Yang dapat dipahami pada surah Al-hujurat ayat 13 manusia diciptakan berbeda-beda. Berbeda dalam segala proses ada menuju tiada. Bisa dilihat mulai dari cara keluar dari rahim ibu, perbedaan pola pikir saat dewasa, hingga proses kematian diujung usia. Perbedaan telah menjadi kepastian nyata namun sebagian kita masih saja tidak terima dengan adanya perbeda-perbedaan bahkan ada yang mengutuknya. Mengapa demikian? Yang saya cermati sebagian kita menganggap perbedaan itu adalah biangnya perpecahan, ibunya penindasan atau rajanya penjarahan.
            Mengapa pemikiran keliru terus ada di otak kita, bahkan dipelihara terus menerus. Apakah kita lupa bahwa perbedaan adalah pemberian dari Tuhan? Rahmat dari yang Maha Kuasa? atau cara Tuhan mengajak kita belajar dan bertaqwa dari perbedaan. bukankah demikian?
            Ada sekilas kisah yang ingin saya sampaikan, pernah suatu waktu selepas sholat maghrib beberapa jamaah di masjid duduk melingkar bercengkrama dengan hangat, ditengah lingkarannya ada satu sisir pisang. Mereka membahas tentang persatuan. Tiba-tiba ada seseorang yang di luar jamaah yang baru selesai sholat menghampiri lingkaran sembari menyapa dan bersalaman hangat. Setelahnya ia mengambil pisang dan keluar dari masjid.
            Setelah ia pergi apa yang terjadi? Suasana hangat menjadi panas suasana merdu menjadi riuh, bisik-bisik pergunjingan mulai terdengar hingga meluas menjadi topik di tengah lingkaran. Seorang bapak memulai dengan kalimat “kalian kenal siapa lelaki yang menyalam kita tadi? Semuanya serentak menjawab “Tidak” dari ujung lingkaran menyuat emosinya hingga mengatakan “ Kurang ajar, anak yang tak tau sopan santun!” dari pangkal lingkaran mencela dan mengatakan “Kalian yang kurang ajar hanya gara-gara pisang, kalian mempersalahkannya?!”
            Berangkat dari kisah di atas, izinkan saya menarik kesimpulan bahwa dari alam pikiran kita sudah berbeda, manusia memang di fitrahkan untuk berbeda. Rasanya sikap yang pantas diperbuat ialah menerima fitrah dan menjalankan fitrah tersebut. Coba renungkan andai saja manusia punya hobby yang sama perilaku yang serentak keinginan yang senada mungkin dunia ini lucu dan tak seimbang atau bahkan dunia ini tidak dinamakan dunia lagi. Semua punya kebiasaan makan bakso sementara semua manusia hanya bekerja sebagai dokter. Pasti aneh dan tak bisa dibayangkan.
            Begitu pula jika semuanya satu suku, satu bahasa, satu pemikiran. Apa jadinya? Yang pastinya ilmu tak akan berkembang, tradisional tidak akan ada jika modern tak tercipta, yang baik tak terlihat jika yang buruk tak ada. Kausalitas tidak akan dikenal. Jadi peran iblis bagaimana, bukankah memang dunia itu ajang pertarungan antara yang baik dan buruk?
            Lantas apa hubungan narasi dan kisah diatas dengan surah Al-Hujurat ayat 13? Ya begitulah mungkin yang dapat saya maknai. Karena memang diakhir ayat Tuhan menyampaikan orang yang paling mulia di sisi Tuhan adalah orang yang bertakwa. Kenapa ada kata takwa setelah perbedaan? Ya karena memang seseorang dapat dikatakan bertakwa ketika ia mampu mengambil pelajaran hidupnya dari sebuah perbedaan dan menjadikan hal tersebut cara untuk mendekatkannya kepada Tuhan. Bukankah demikian?
            Semestinya kita harus bersyukur lahir secara Islam dan dibesarkan secara Islam di Indonesia, kenapa begitu? Ya karena Indonesia itu negara yang beragam. Cara dan celah untuk menjadi orang yang bertaqwa semakin mudah, nuansa keragaman telah ada tinggal pribadi masing-masing mengisi keberagaman ini untuk menjadi orang yang bertaqwa. saya baru menyadari Indonesia tempat yang paling mudah untuk menjadi orang yang bertaqwa. Seharusnya kita harus bersyukur dengan corak budaya yang berbeda.
            Bisa jadi apa yang saya pikirkan hari ini, bisa menjadi hal yang perlu diteliti para ilmuan untuk kedepannya. Andai memang itu nyata pemerintah tak sibuk lagi mempromosikan budaya Indonesia di panggung-panggung Internasional, wisata Indonesia bukan lagi tentang indahnya pantai Kuta, luasnya danau Toba atau tingginya puncak jaya. namun wisata Indonesia adalah manusianya. Manusia yang religius sekaligus bertaqwa, manusia yang paling memanusikan manusia, manusia yang paling damai di seantero bumi, manusia yang paling beradab, santun dan ramah sejagad raya. Hingga nanti wisatawan takjub dan sampai mengatakan Indonesia tempatnya calon penghuni surga terbanyak di dunia. Hehehe
            Kalau begitu kenapa kita terus berdebat masalah sistem negara? Bukankah perbedaan itu jalan kita menuju taqwa? Saya ingin memberikan saran kepada semua orang yang sempat membaca tulisan ini. Kalau memang perbedaan jalan untuk kita bertaqwa kenapa masih saja ada yang mengutuk, yang menghakimi, yang mengkafirkan orang lain? Bukankah lebih baik belajar dan memahami perbedaan ini untuk mendekatkan diri kepada-NYA? Lantas apa yang mesti kita ributkan? Bukankah terminal akhir kita itu menuju sisi-NYA? Kalian ini bagaimana sih? Atau saya yang bagaimana. Sama sekali tidak paham atau belum paham. entahlah                

Kamis, 29 November 2018

Online Shaming

ONLINE SHAMING
Write by Panji Anugerah

Apa itu Online Shaming? 
Online Shaming ialah perilaku mengolok-olok, menghujat, mempermalukan orang lain di media online. Online Shaming bermula karena adanya ketidaksepahaman dengan seseorang atau terkadang keinginan untuk meluruskan hal yang dianggap salah, yang tanpa disadari mempermalukan seseorang. sebagai contoh adanya berita kebijakan kontroversial dari pejabat politik.
Berita kontroversial dari pejabat politik ini akan menjadi perseteruan di kalangan netizen. ada yang pro dan ada yang kontra. namun yang disayangkan, perseteruan netizen ini bukan lagi terkait kebijakan atau hal yang substansif dari pejabat politik  melainkan perseteruan sentimen yg akan merusak perdamaian, seperti sindir menyindir terkait agama, ras, suku, daerah bahkan pendidikan dan strata sosial.
Online Shaming semakin marak beredar. bisa kita lihat disetiap kolom komentar public figure pasti ada yang komentar provokasi baik yang dilakukan oleh akun bodong maupun akun real. online shaming ini terjadi akibat kedangkalan berfikir dan kebebasan.
sejatinya media hadir untuk mempermudah akses bahkan aktivitas sehari-hari seseorang. namun belakangan ini akibat kedangkalan berfikir dan kebebasan, media berubah sebagai alat kebencian tempat seseorang mempermalukan orang lain bahkan menjadi panggung perpecahan.
asumsi sampai saat ini kedangkalan berfikir dan kebebasan adalah penyebab utama. kebebasan dalam media hanyalah ilusi karena dengan kebebasan itulah menjadi ketidakbebasan. bahasa sederhananya kebebasan menjadi alat untuk tidak bebas. kebebasan itu adalah fatamorgana dalam media. memang perlu kiranya ada panduan ataupun regulasi atau hal-hal yang bersifat intensif yang dilakukan pemerintah yang bisa menjadi cerminan bagi masyarakat.
karena sejauh ini UU yang sering dilanggar ataupun diabaikan adalah UU ITE, dapat ditarik kesimpulan bahwa memang masyarakat butuh arahan menjadi seseorang yg cerdas dalam bermedia. jika pemerintah masih menutup mata terkait ini lama2 panggung permusuhan ini akan semakin meluas dan meluber kemana-kemana.
media berpengaruh dalam berpikir masyarakat, karena apa yang ada akan menjadi biasa dan akhirnya menjadi kebudayaan baru masyarakat.
dahulu, sebelum adanya media tulis masyarakat menjadikan daya ingat sebagai sarana untuk menyimpan hal-hal yang dianggap penting. namun ketika media tulis hadir masyarakat malas untuk mengingat.
dahulu, sebelum hadirnya media cetak masyarakat berbondong-bondong ke perpustakaan untuk membaca buku, setelah membaca buku masyarakat mendiskusikan apa yang dibaca. namun, ketika media cetak telah hadir masyarakat membaca hanya dirumah dan menelan hasil bacaannya mentah-mentah tanpa ada diskusi yang rutin.
dan sekarang, jamannya media teknologi, media instan. masyarakat telah malas untuk mengingat, menulis, membaca, berdiskusi. masyarakat lebih cenderung mengikuti, memalsukan dan mengolok-olok.
Teknologi yang semakin berkualitas bertolak belakang dengan kebudayaan yang berkualitas. akhir-akhir ini kita mendengar adanya duel maut gara-gara perbedaan pendapat di media. sesadis itukah media sehingga ada yang memakan korban sekejam itukah online shaming? hingga nyawa melayang.

Kamis, 13 September 2018

Opini Kebangsaan



Buzzer Media
Penulis: Panjianugerahp@gmail.com

Tiba-tiba kita terpecah belah, yang satu dianggap anti Islam dan satu lagi disebut Islam radikal. Aku yakin kita tak seperti ini, jiwa kita tidak ada jiwa perpecahan, jiwa kita suci. Siapa bilang kita terpolarisasi? Hanya saja terjebak dalam arus itu.
Percaya atau tidak sebenarnya kita telah masuk dalam drama kolosal politisi. Namun kita terlambat menyadarinya. Sudah terlanjur dan akhirnya kita malu untuk saling bermaafan.
Sudah terlanjur basah adagium modernnya, di tengah malu kita ini tiba-tiba ada yang menyusup dengan menggiring opini kebencian melalui dunia sebelah namun kita entah kenapa seringkali percaya informasi dunia sebelah daripada dunia yang kita tempati ini.
Dunia sebelah yang dimaksud adalah dunia maya. Dunia yang didamba-dambakan banyak orang. Dunia yang tak mungkin bisa ditempati namun bisa menjadi patokan hidup seseorang. Aneh sih, namun karna telah tergilas kita kebanyakan telah menganggap semua itu hal yang lumrah.
Peradaban saat ini banyak dimulai dari sana, akar dan ujung masalah terkuak hingga rekonsiliasi harusnya dari sana. Namun itulah kita tidak bisa memanfaatkannya. Sudah banyak yang terbalik, hingga budaya malupun terbalik. Contoh sederhananya ketika perpecahan diumbar namun pada saat persatuan banyak yang malu mengumbarnya, aneh kita ini atau dunia sana yang aneh, entahlah.
Namun aku berpikir kita lugu namun terlalu pintar hingga mudah tergiring dunia sana tapi sangat selektif dengan dunia yang ditempati. Apa karna dunia sana belum pernah ditempati hingga menimbulkan kepercayaan yang baik atau karna memang tempat tinggal saat ini tetangganya banyak yang pembohong?
Tak terlepas dari baik sangka dan buruk sangka, kita harus mengakui ada sosok buzzer yang telah mengobrak-abrik pikiran dengan tanpa izin. Buzzer kali ini tidak hanya mampu mengolah isu di media namun telah masuk di dalam kehidupan.
Buzzer hari ini semakin leluasa, semakin terlihat adu domba sana sini. Namun banyak dari kita tidak pernah menyakini itu, malah sang korban (Islam radikal dan Anti Islam) yang terus diteriaki, apa tidak menjadi kacau? Kita semestinya yakin golongan yang anti Islam dan Islam Radikal itu hanya simbolik dari apa yang buzzer kerjakan.
Jika diizinkan untuk berbicara frontal, buzzer ini yang seharusnya diteriaki. Pandai-pandainya ia merusak persatuan karena politik kekuasaan. Lebih dari itu buzzer telah merusak harmonisasi yang telah berabad-abad dibangun.
Sejarah telah mencatat bangsa ini diusahakan oleh manusia yang beragam, tak pernah jadi pertanyaan apalagi menjadi masalah apa latar belakang namun yang pasti kita satu tubuh kita satu rahim yang tanpa pamrih berjuang menegakkan persatuan di tanah surga yang tongkat bisa jadi tanaman.
Saya teringat beberapa saat yang lalu, ketika teman saya sebegitu terpukulnya melihat pemimpin idolanya dimaki-maki di dunia maya. Ia sampai berniat untuk mencari siapa-siapa saja yang merusak citra pemimpinnya itu bahkan ia rela berdarah-darah, Sebegitukah? Rela perang saudara? Dalam hati saya berkata, ini adalah korban buzzer media.
Siapakah engkau? Dimanakah engkau sekarang? Yang beraktivitas sebagai buzzer mohon kembalikan persatuan yang telah terpolarisasi ini. negara ini telah banyak mengandung beban, utang menggunung, anak bangsa masih banyak yang tak bergizi. Jika ingin mencari kekuasan jangan begini caranya, kasihan bagi mereka yang belum paham, ini merusak peradaban dan pastinya akan mengurangi vitamin Demokrasi kita.
          

Kamis, 30 Agustus 2018

Opini Kebangsaan


Kita Bukan Bangsa Yang Terluka

            Ada sebuah luka yang semakin menganga yang dialami bangsa ini, luka itu terus semakin meluber keseluruh tubuh dan mungkin telah masuk stadium 4, parah? Bisa jadi, jika tidak segera diobati pembuluh darahnya akan pecah. Bangsa ini mengalami penyakit komplikasi yang diakibatkan oleh tubuhnya sendiri. Ketidakpercayaan sesama anak bangsa meluas kemana-mana, saling menganggap diri paling benar dan sangat mudah menyalahkan orang lain.
            Penyakit ini berdampak dengan turunnya kualitas semangat hidup. Siapa aktor dibalik penyakit ini? Tak usah jawab, cukup getarkan hatimu jangan sampai pertanyaan ini menambah luka bangsa. Akhir-akhir ini rakyat mengalami situasi yang tak bisa dielakkan konflik antar anak bangsa semakin murah dilihat, pertunjukan drama politisi semakin ramai, Bangsaku terluka?
            Ada juga kejadian lucu tersaji di alam demokrasi, ketika banyak mulut tersumbat dan disumbat saat ingin berbicara, kebebasan beragama dihadang, kebenaran seolah-olah hanya milik satu orang. Sampai kapan seperti ini? Dulu tak ada yang merasa paling benar, dulu tak ada yang merasa paling berjuang, dulu tak ada yang saling menyalahkan padahal mereka telah nyata seorang pahlawan. Tapi kenapa kita yang belum ada berbuat malah merasa yang paling berjasa?
            Kini, mental sok berkuasa telah merongrong keseluruh elemen bangsa yang menjadikan bangsa ini darurat disegala lini. Belum lagi kekayaan yang selama ini dibanggakan malah dijadikan senjata perpecahan, yaitu perbedaan. Ya perbedaan. Perbedaan kini bukanlah menjadi hal yang indah bagi bangsa ini. Jikalau ingin berargumen harus melihat tempat dulu kalau tidak, bisa masuk penjara.
            Kini, banyaknya perbedaan malah menjatuhkan moral bangsa. Kenapa tidak? Sedikit-sedikit berperang untuk benar. Perbuatan yang tidak benar ini semakin candu dikalangan anak bangsa, padahal menyalahkan oranglain itu tidak baik jangankan menyalahkan membenarkan diri sendiri saja tidak boleh. Belum lagi dengan kepercayaan, kita krisis itu. Sesama saudara setanah air kita mudah buruk sangka, kita lebih percaya dengan aseng. Siapa kita ini sebenarnya? Apakah kita satu nusa namun bukan satu bangsa?
            Kepercayaan kita sangatlah lemah, hegemoni streotip terus mengalir disekitar kita. Terkadang aku tak habis pikir, apakah mungkin seseorang yang satu rahim, satu ibu dan satu rumah tidak saling memercayai.
            Merah putih yang dikibarkan itu bukankah pertanda bahwa darah dan tulang kita sama? Bukankah para pendahulu rela bertaruh merah putih raganya untuk persatuan kita? Semakin lama kutuliskan coretan ini semakin buat bingung dan bertanya , aku ini siapa? Kamu ini siapa?
Sudahlah!
            Bangsa ini masih memiliki nafas, masih dapat hidup lama, tak usah cari apa obat untuk mengobati lukanya, cukup kamu perbaiki hubunganmu dengan Tuhan dan rakyat, lukanya akan sembuh dengan sendiri karena kita bukan bangsa yang terluka!
Bangsa ini dipertaruhkan dengan hidup, dijihadkan atas nama agama karena bangsa ini adalah bangsa pemenang, bangsa ini suci dan pastinya bangsa ini adalah titipan yang memiliki fitrah yang harus dijaga.