Total Tayangan Halaman

Minggu, 05 April 2026

Sekolah Berbasis Sirah di Payakumbuh

SD Islam Raudhatul Jannah 2 merupakan sekolah yang berbasis Sirah. Dimana, kurikulum pembelajaran mengacu kepada kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat. Disamping itu, keunggulan dari sekolah ini ada terintegrasinya dengan baik ilmu-ilmu syar'i dan non syar'i. 

Adapun beberapa program unggulannya adalah:

1. Kurikulum Berbasis Sirah

2. Program Menu Sehat tanpa Kantin

3. Metode pembelajaran berasaskan kehidupan Rasulullah dan tahap perkembangan anak

4. Parenting Intensif Untuk Wali Murid

 

Parenting Intensif dengan Wali Murid
 

 

Tempat Belajar Sirah Nabawiyah di Sumatera Barat

 Akhir-akhir ini banyak yang mencari tempat belajar Sirah Nabawiyah dan Sejarah Peradaban Islam secara offline di Sumatera Barat. 

Apakah ada? Jawabannya ada banget. Lokasinya di Payakumbuh. Adapun nama lembaganya ialah Payakumbuh Sirah Community (PSC).

PSC ini punya beberapa agenda untuk kamu yang ingin belajar Sirah Nabawiyah. ada yang intensif seperti Majelis Sirah Nabawiyah yang diadakan setiap sabtu dan Majelis Khulafaur Rasyidin setiap jum'at. 

Selain itu PSC juga punya agenda yang menarik seperti:

- Sirah on Cafe

- Sirah Event 

- Kajian bulanan. 

Di bahas secara terstruktur dan ringan. InsyaAllah cocok untuk kamu yang pemula dan untuk kamu yang ingin belajar secara mendalam. 

Kalau ingin tahu tentang PSC secara lanjut silakan kunjungi instagram @payakumbuhsirahcommunity



 

Jumat, 03 September 2021

Yang Mesti Diperhatikan Dalam Pernikahan

Nikah Muda Baik, Tapi

Penulis: @panjianugerahp 


Ada ketidakseimbangan informasi bila berbicara nikah muda. Tentu tujuan yang menyampaikan bahwa nikah mudah; indah, indah dan indah  adalah hal yang baik. Kemungkinan ia khawatir dengan pergaulan anak muda sekarang, untuk menjauhkan mereka dari bahaya pacaran dan fitnah zina.

Disampaikan bahwa nikah muda itu merupakan anjuran dari Rasulullah, ini benar. Merupakan sunnah yang harus ditaati, ini benar. Namun bila mewajibkan dan membabi buta, bahwa nikah mudah itu harus dilaksanakan. Inilah yang agaknya mesti kita kunyah-kunyah dulu.

Benar adanya bila para sahabat itu kebanyakan menikah muda. Tapi mesti kita perhatikan dengan realitas sosial yang ada. Bahwa mereka itu menikah, bukan karena muda saja, melainkan juga sudah matang dalam iman, prinsip dan visi.

Kita harus menyadari secara kompleks bahwasanya para sahabat menikah di usia belia bukanlah tentang masalah usia saja. Melainkan sebuah kematangan diri. Mereka terbentuk dan dibentuk dalam lingkungan Islam yang kaffah dan mendapatkan keilmuan yang begitu dalam. Sehingga mereka menjadi cepat dewasa dalam berpikir dan bertindak.

Menikahnya mereka di usia belasan itu bukan perencanaan yang tiba-tiba. Melainkan sudah diprogramkan orang tua dan lingkungannya sejak mereka masih belia.

Beda dengan kita yang hari ini menjadikan nikah muda itu sebatas trend. Di satu sisi merupakan hal yang positif ketika kebaikan menjadi trend, namun di sisi lain kita mesti menyampaikan bahwa Islam itu dijalankan bukan karena trend namun karena keimanan yang bersemayam di dada.

Kita berharap menikah itu bukan sebatas keinginan seksual melainkan juga hasrat membangun tatanan masyarakat sosial yang berperadaban. Ketika rumah bercahaya, maka lingkungan itu akan bercahaya.

Saya teringat nasihat atau himbauan Dr Majid Irsan Al-Kirani dalam bukunya (Model Kebangkitan Islam: 2019 cet II) “Kepada segenap kaum laki-laki dan wanita dari umat ini, agar memahami sunnatullah az-zaujiyyah (berpasangan) yang mengatur hubungan dua jenis kelamin dengan asas saling melengkapi antara prinsip akhlak dan estetika. Mengabaikan sunnatullah ini akan berakibat pada munculnya kekacauan dan guncangan dalam hubungan tersebut, dan akan mengubah jerih payah pasangan suami istri menjadi amal yang tidak shalih, yang mengakibatkan terjadinya kemandulan sosial dan kesempitan Hidup.”

Bila menikah diniatkan karena Allah, dilandasi dengan ilmu, dan diarahkan oleh visi hasilnya akan dahsyat. Lihatlah bagaimana seorang manusia biasa, menjadi dimuliakan Allah berkat keluarga. Dalam al-Quran hanya ada dua nama manusia biasa yang Allah abadikan menjadi nama surah. Al-Imran dan Luqman. Saat Allah mengabadikan sesuatu, tentu karena ada hal yang istimewa.

Keluarga Imran menjadi model ideal keluarga muslim. Bersama istrinya: Hannah ia mampu melahirkan keturunan-keturunan yang mulia. Melahirkan Maryam sebagai wanita yang Allah sucikan, dan dari rahim sucinya Maryam lahir seorang Nabi yang bernama Isa As.

Begitu juga bila kita lihat pahlawan-pahlawan Islam, hampir bisa dikatakan semua mereka itu tercipta dari keluarga yang dinaungi cahaya-Nya.

Sementara hari ini wanita-wanita muslimah seakan mandul dalam melahirkan pahlawan dan pembaharu agama ini. Apa sebab, tidak ada visi dalam pernikahan. Hari ini menikah hanya sebatas status saja, tugas peran suami ia tidak mengerti. Apa itu hak dan kewajiban istri ia tidak paham. Sehingga hari ini kita melihat para generasi ini, cepat tumbuh dan berkembang fisiknya namun lambat kedewasaan berpikirnya.

Tidak bisa pula untuk kita sangkal, bahwa hancurnya lingkungan hari ini, maraknya kriminalitas di tingkat generasi muda, merupakan  buah dari tidak berhasilnya pendidikan dan penanaman akhlak di dalam rumah. Padahal idealnya, generasi muda itu adalah ujung tombak peradaban. Bahkan Islam sendiri dibangun dan diperjuangkan anak-anak muda.

Sungguh sangat menyedihkan. Saat agama hanya dijadikan sebagai ritual. Belakangan ini ada kebiasaan baru yang membudaya di masyarakat. Yaitu tentang pre-wedding; berpoto sebelum menikah. Mirisnya potonya bukan sekadar foto. Melainkan foto mesra, berpelukan bahkan mohon maaf beradegan layaknya suami istri. Naudzubillah min dzalik

Seakan status sah setelah akad nikah itu hanyalah sebatas pelengkap administrasi saja.  Lain halnya lagi, saat resepsi pernikahan semacam berlomba-lomba untuk mendatangkan penyanyi (biduan) yang seksi. Padahal ini pernikahan. Kita berdoa agar pernikahan itu di berkahi Allah, sementara di saat yang sama kita mengerjakan hal yang begitu Dia benci.  

Kita sungguh khawatir bila Allah tidak memberikan keberkahan untuk keluarga. Karena keberkahan ini nanti akan berdampak pada masyarakat dan negara. Jangan-jangan kesempitan hidup yang kita alami dalam berbangsa dan bernegara saat ini, pangkalnya dari keluarga yang tidak diberkahi. Naudzubillahi min Dzalik


Senin, 28 Desember 2020

Ikuti Saja Allah

 

Ikuti Saja Allah

Oleh: Panji Anugerah

“Bagaimanapun kondisi hidupmu hari ini, hari lalu, hari esok. Bersangka baiklah pada Allah. Semua akan berakhir indah, bila engkau mengikuti skenario-Nya.

Gemerincing ketakutan, riuh rendah menghantam jiwa wanita itu; ia baru saja melahirkan. Derapan nafasnya tidak beraturan, pikirannya liar hilir-mudik ke sana ke mari. Setelah melahirkan jiwanya semakin tidak tenang. Saat mengetahui sang anak adalah laki- laki. Karena pada saat itu penguasa memberlakukan aturan, anak laki-laki yang lahir akan dibunuh.

Terlihat seperti candaan namun itulah aturan yang berlaku. Penguasa itu sangat takut kekuasaannya digoncang atau bahkan sampai direbut.

Kembali ke wanita tadi. Pikirannya menjadi pendek, dadanya menyempit; sudah kehabisan akal agar sang anak terlepas dari pembunuhan.

Dikondisi yang tidak mengenakkan itu, turunlah perintah Tuhannya agar sang anak dihayutkan ke sungai Nil. Perintah itu sungguh menyesakkan dadanya. Sungguh berat memang diposisi itu. Betapa sulit dan peliknya. Apalagi bila membayangkan betapa rumitnya mengandung dan melahirkan.

Namun wanita itu adalah manusia yang beriman. Cahaya ilahiyah yang ada di dalam dirinya mampu memadamkan segala kegelisahan, ketidakikhlasan itu. Dengan segera ia mengikuti perintah Tuhannya. Memasukkan bayi itu ke dalam peti lalu menghanyutkannya ke sungai       Nil.

Selang beberapa waktu, peti yang dihanyutkan itu tiba di areal sungai tempat istri penguasa dan dayang-dayangnya mandi dan mencuci. Diambillah anak tersebut lalu dibawa ke Istana.

Sampai di Istana, dibukalah peti itu. Asiah nama istri penguasa, terkejut, saat melihat isinya seorang bayi yang rupawan. Hatinya langsung terpikat.

Kabar ini diberitahukanlah pada suaminya; Fir'aun penguasa itu. Awalnya ia tidak setuju bahkan sangat khawatir bahwa anak ini menjadi musuhnya dikemudian hari, menjadi penyebab hancurnya kekuasaannya. Firasatnya terus berbisik.

Namun pinta sang istri yang terus menerus mengalir, menghayutkan firasat buruknya itu. Dan berkatalah isteri Fir’aun: (Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak, sedang mereka tiada menyadari.” (Qs Al-Qashash:9).

Akhirnya bayi itu dijadikan sebagai anak angkat di Istana. Sementara di tempat yang terpisah, ibu kandung bayi itu. Sedang kosong hatinya, gelisah jiwanya. Hingga sampai ke titik kulminasi ketidaksanggupannya. Lidahnya sudah kelu, air matanya tak sanggup lagi keluar hanya bisa jatuh ke dalam. Ia merasakan cobaan yang terlampau dalam. Ia sudah tak kuasa.

Di masa-masa sulit itu. Datanglah karunia Allah yang maha indah yang maha besar. Melampaui imajinasi. Memang keajaiban dan pertolongan Allah itu akan datang, saat manusia sudah sampai di titik usaha tertinggi, di puncak kesabaran, di beningnya keikhlasan.

Di saat manusia tidak bisa lagi berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah dan bertawakkal. Baru Allah berikan intervensi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Di saat terhimpit. Agar manusia sadar dan menyadari bahwa segala persoalan hidup, sepelik apapun, serumit apapun, seberat apapun, semustahil apapun akan selesai bila Dzat yang Maha Besar memberikan pertolongan. Ikuti saja skenario Allah.

Kembali ke cerita tadi. Dapatlah sang ibu itu kabar, bahwa sang anak, berada dalam kondisi lingkungan yang sangat mengenakkan. Menjadi anak angkat di Istana. Tidur di kasur yang empuk, dilayani seperti raja, dikasihi dan disayangi.

Bukan main riangnya sang ibu, saat mengetahui kabar itu. Perasaannya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Menjadi sangat bahagia-bahagia sekali. Tak sampai disitu. Berkat kesabaran dan tawakkalnya, Allah memberikan karunia dari arah yang tidak disangka-sangka. Dimana melalui skenario indah-Nya, Allah berikan jalan agar sang bayi tidak mau menyusu kepada wanita-wanita manapun, kecuali dirinya.

Akhirnya bayi itu kembali kepelukannya. Untuk Disusuinya, dirawatnya, dididiknya. Bukan hanya sekadar menyusui namun juga diupah dan digaji saat merawat Anak itu. Dimana didapati kisah mulia seperti ini lagi? Digaji untuk membesarkan anak kandung sendiri.

***

 

            Seringkali Allah mendramatisasi jalan hidup seseorang. Untuk mengujinya, untuk membedakannya. Maka krisis dalam hidup itu merupakan sebuah takdir, sudah seharusnya krisis itu tidak disesali apalagi dikutuk. Melainkan kita hanya perlu meyakini bahwa krisis merupakan arena pertarungan yang membedakan antara pejuang dan pecundang.

               Ikuti saja Allah. Skenarionya pasti akan happy ending. Mungkin saat ini kita memiliki permasalahan hidup yang begitu pelik. Bisa jadi kehilangan sesuatu yang dicintai, bisa pula sedang jatuh di titik terendah. Yakinlah pada Allah, Yakinlah pada Rahmat-Nya. Tidak akan pernah Allah membiarkan kita sendirian, bila kita setia dalam lintasan syariatnya.

Maka saat berdoa, saat menengadahkan tangan, jangan pernah minta agar cobaan hidup itu diangkat. Namun mintalah agar jiwa dan fisik kita dikuatkan untuk menghadapinya. Karena hidup yang mulia adalah hidup yang penuh rintangan.

Senin, 13 Juli 2020

Kita Akan BerJaya!


Kita Akan BerJaya!
Panji Anugerah

Dalam lini masa sejarah, wabah ataupun pandemi seringkali berperan dalam merubah wajah peradaban. Pada masa Dinasti Umayyah misalnya, 5 kali wabah mematikan menyerang Dinasti yang berpusat di Damaskus itu. Kesehatan, Sosial dan ekonomi hancur.

Terkhusus pada tahun 750 M wabah mematikan itu membinasakan petinggi-petinggi Umayyah. Konon kabarnya Berhasilnya Abbasiyah melakukan Revolusi dan membentuk peradaban baru salah satu faktornya ialah wabah.

Pun juga pada abad ke 14, masa ini terkenal dengan wabah Black Death. Hampir 2/3 penduduk Eropa binasa, akhir wabah ini ditandai dengan kebangkitan Eropa Barat sekaligus merubah sistem Feodalisme Menuju Imperialisme.
Atau Pandemi Demam Kuning yang dirasakan penduduk Amerika Utara pada abad 18, yang memaksa Napoleon Bonaparte dan Pasukannya angkat kaki, peristiwa ini sekaligus menghapus kekuasan perancis dan perbudakan bangsa Haiti.

Dalam Hukum Kausalitas setiap sebab melahirkan peristiwa, dan peristiwa akan menjadi sebab untuk cerita selanjutnya. Perspektif Takdir juga begitu setiap kejadian pasti ada hikmah yang berserak-serak di dalamnya.

Ditengah krisis Kesehatan dan Ekonomi yang melanda , marilah kita berprasangka baik bahwa terjadinya keterpurukan hari ini adalah sebab untuk kejayaan di hari esok.
Semoga pandemi ini menjadi cikal bakal berubahnya wajah peradaban menuju tatanan kehidupan yang berkeadilan. Yang didalamnya tidak ditemukan lagi kemiskinan, kriminalitas, semuanya hidup sejahtera dan guyub rukun.

Istana Negara diduduki para pejabat yang Berkarakter, Generasi muda semuanya berakhlak, Pasar Dipenuhi pedagang jujur, tempat-tempat peribadatan penuh sesak, dijalanan tidak ada lagi tawuran, semuanya satu demi cinta yang satu.

Pendidikan kita sebagai kiblat dunia, Ekonomi kita sebagai penggerak, Politik sebagai panutan bahkan kebudayaan kita sebagai percontohan.
Terbayangkan? Bagaimana Indahnya bila peristiwa itu terjadi di negri kita dan sebagai aktornya adalah engkau yang sedang baca tulisan ini, InsyaAllah


Zalim atau Lazim


Zalim atau Lazim
Pada suatu masa hiduplah seorang Raja yang sangat adil. Ia mengelola pemerintahan dengan cukup baik. Sederhana, jujur, ramah adalah kepribadian yang melekat padanya.
Pemerintahannya sangat fenomenal, seantero bumi mengenalnya. Capaiannya bukan hanya sekadar prestasi yang bisa dimanipulasi, melainkan sudah sampai di titik puncak, yaitu, terciptanya tatanan kehidupan yang berkeadilan dan makmur.

Rakyatnya berdaulat secara politik dan hukum. Berdikari pula secara ekonomi, toleransi apalagi jangan ditanya, sungguh menakjubkan.
Masyarakatnya hidup dengan tentram dan sederhana, persis seperti sang Raja.

Suatu waktu, bertanyalah Presiden dari negara tetangga yang berhasil itu. "Bagaimana strategi yang kamu lakukan agar bisa mewujudkan negara seperti ini tuan Raja?", Ia menjawab, "Memelihara sifat husnudzon, baik sangka." Presiden itu bertanya lagi, "Hanya itu saja?", "Iya," jawabnya.

Ya, negara itu memelihara sifat husnudzon, baik sangka yang sangat-sangat tinggi.
Sehingga rakyat yang dianggap miskin bagi negara lain, bagi pemerintahan ini bukan. Masyarakatnya dianggap bersifat zuhud, sudah tidak memikirkan dunia.
Adapun pejabat yang korupsi, dianggap meminjam uang. Yang berencana melakukan aniaya disebut ketidaksengajaan. Seperti aparat itu yang tak sengaja membawa air keras lalu tertumpah di wajah seorang hamba yang baru selesai salat subuh itu, sangatlah lazim.
Kuat dugaan air kerasnya juga disenggol, bukan tertumpah.

Sudah lazim bagi masyarakatnya menerima dan menyaksikan seperti itu. Sudah terbiasa.
Masyarakatnya juga sudah lupa perbedaan zalim dan lazim.
Mereka menganggap zalim itu adalah hal yang tak biasa terjadi. Seperti hukum ditegakkan dengan adil, uang negara dikelola dengan transparan, harga listrik murah, harga pangan terjangkau.

Ternyata itulah defenisi zalim, zalim bagi orang-orang yang berada di Istana.


Rabu, 18 Desember 2019

Benteng Terakhir Republik


Agresi Militer II Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 menandakan rapuhnya pertahanan Indonesia. Hanya dalam hitungan jam Ibukota negara berhasil dikuasai.
Agresi ini membuat onar di seantero republik. Maka wajah pemimpin dan rakyat kala itu benar-benar beragam. Ada yang pesimis, ada juga yang mati ketakutan dan ada pula yang siap memperjuangkan republik hingga tetes darah terakhir.
Syafruddin Prawiranegara satu dari sekian yang akan siap berjuang, berkorban menjadi benteng terakhir republik. Dengan semangat membaja, syaf beserta teman-teman lainnya melahirkan suatu gagasan baru untuk menyelamatkan republik atau yang lebih kita kenal dengan istilah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia).
Dengan segala resiko Syafruddin bergerilya dari hutan ke hutan, lorong ke lorong untuk memastikan semuanya aman. Dan puncaknya ialah ketika saluran radio yang ada di Koto Tinggi, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat berhasil mengetuk siaran radio yg ada di India, untuk menyampaikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih memiliki pemerintahan yang sah, sekaligus menyanggah pernyataan Belanda sebelumnya yang mengatakan bahwa Republik Indonesia telah dikuasai kembali oleh Belanda.
Melihat peran PDRI dan Syafruddin yang sangat vital dalam mempertahankan republik Indonesia.
Maka pada tahun 2006, SBY selaku presiden mengeluarkan Keppres tentang "Hari Bela Negara" yang diperingati setiap tanggal 19 Desember.
Keppres Ini bertujuan untuk menghormati jasa-jasa Syafruddin Prawiranegara dan tokoh2 PDRI yang berhasil menyelamatkan Indonesia dari sebuah kegentingan.
Karena entah kenapa nama Syafruddin seringkali hilang dalam khazanah sejarah Indonesia. Padahal beliau presiden ke 2 Republik Indonesia walaupun tak diakui dan terlupakan.
Syafruddin memang tak sefamiliar Soekarno, namun jasanya tak bisa diukur untuk Republik Ini. Semoga dengan sajian singkat ini kita mampu menyusun ulang puzzle sejarah kita yang berantakan.
Selamat Hari Bela Negara!