Total Tayangan Halaman

Selasa, 03 Oktober 2017

Menghadapi Masalah

Masalah?
Penulis: Panji Anugerah
 

Sebuah keniscayaan setiap insan mempunyai masalah dan tantangan dalam hidup. Sejatinya ketika kita lahir di dunia ini telah membawa masalah. Masalah kepercayaan, ekonomi, waktu dan sebagainya. Hidup punya sejuta masalah, dan kita dihidupkan untuk menyelesaikan masalah. Seyogyanya manusia sejati itu adalah manusia yang butuh masalah, berani menghadapi masalah dan mampu memberantas masalah. Jangan pernah lari atau bahkan menghindar dari masalah jika itu yang diperbuat yakinlah masalah akan selalu menggerogoti hidupmu. Salah satu cara yang efesien dalam menghadapi masalah pergilah ke kotak masalah, berkeliling di sekitar dan lalu keluar dari kotak itu. Secara analogi sederhananya suatu masalah ibarat sebuah tempat yang mana kita tersesat dan tidak ada cara lain selain untuk keluar dari tempat tersebut dengan cara apapun dan bagaimanapun.
Ketika kita mendapatkan masalah yakinlah ada seribu kata kunci untuk menyelesaikannya, masalah bisa juga dikatakan sebagai teka teki dalam menghadapi kehidupan jika berhasil berarti kamulah produk yang sukses yang Tuhan ciptakan. Tuhan memberi kita berjuta wadah untuk belajar memahami dan menyelesaikan masalah tersebut lalu Tuhan memberikan Kita berjuta Nikmat untuk mampu tegar dalam menghadapi masalah, lalu kenapa masih saja lemah? Dari seluruh sektor kita telah di kuatkan-Nya bahkan telah dimanjakan-Nya.
Apa yang menggerogoti jiwa kita ketika masih ada kata-kata putus asa, lelah, tidak sanggup dalam menghadapi hidup? Bukankah kita hamba yang Maha kaya, yang Maha kuat, yang Maha besar yang Maha dari segala Maha.
            Hidup itu sangatlah sederhana, menjadikan kita pribadi yang tangguh yang tak kenal lelah yang tak pernah putus asa telah menjadikan kita manusia yang sukses, Karena Sukses itu bukan hanya sekedar mempunyai jabatan tinggi, harta yang melimpah atau mempunyai barang-barang mewah. Sukses yang sejati adalah manusia yang mampu menghadapi seluruh masalah dan mensinergikannya dengan kekhusyukan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan. Hidup itu sangatlah sederhana terlebih ketika kita mampu menjadikan suatu masalah sebagai, teman bahkan sahabat yakinlah, percayalah dan pastikanlah Hidupmu akan ternikmati, waktumu akan sangat berharga, dan bahkan setiap hembusan nafasmu adalah udara penyejuk bagi alam semesta ini.
            Ambil setiap hikmah langkah perjuanganmu dalam menghadapi masalah, karena dengan masalah hatimu akan lebih peka, matamu akan lebih tajam untuk melihat, tanganmu akan lebih kuat untuk menggapai dan mulutmu tak akan henti-henti mengagungkan kata syukur. Sederhana itu bahagia dan bahkan sangatlah bahagia ketika setiap tantangan yang menerjang kita hadapi dengan penuh semangat dan hikmat Lillahi Ta’aala. Tak ada yang mesti dan harus disesali karena Tuhan menciptakanmu Tidaklah dengan sia-sia. Semuanya telah dirangkai-Nya dengan konkrit dan terstruktur janganlah menangis air matamu itu berharga dan janganlah kau teteskan dengan cara murahan, janganlah menyerah karena dirimu itu sangat berharga dimata Tuhanmu jadilah pribadi yang pejuang, dan janganlah lelah bahwa pundakmu itu adalah pundak yang sangat kokoh hingga gunung, bahkan bumi sekalipun iri hati melihat keperkasaannya. Beranjaklah dari keterpurukan melawan masalah, berdirilah dengan penuh tekad dan ambisi, dan berlarilah sembari teriakkan kepada semesta bahwa kau akan berjanji untuk melanjutkan hidup ini dengan sebuah keyakinan dan semangat membaja.      
 
More Info: Panjianugerahp@gmail.com

Jumat, 29 September 2017

Sejarah Hari Lahir TNI

Sejarah Hari Lahir TNI

Setelah resminya merdeka dari kolonial-kolonial, bangsa Indonesia tidak mempunyai kesatuan/pengaman bagi rakyat secara struktural birokrasi hanya mempunyai Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk dalam sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945 dan diumumkan oleh Presiden pada tanggal 23 Agustus 1945. Tujuan dibentuknya BKR untuk memelihara keamanan bersama dengan rakyat dan jawatan-jawatan negara. BKR baik di pusat maupun di daerah berada di bawah wewenang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan KNI Daerah dan tidak berada di bawah perintah presiden sebagai panglima tertinggi angkatan perang. BKR juga tidak berada di bawah koordinasi Menteri Pertahanan. BKR hanya disiapkan untuk memelihara keamanan setempat agar tidak menimbulkan kesan bahwa Indonesia menyiapkan diri untuk memulai peperangan menghadapi Sekutu. Asumsi dibentuknya BKR karena Para pemimpin pada waktu itu memilih untuk lebih menempuh cara diplomasi untuk memperoleh pengakuan terhadap kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan. Anggota BKR saat itu adalah para pemuda Indonesia yang sebelumnya telah mendapat pendidikan militer sebagai tentara HeihoPembela Tanah Air (PETA), KNIL dan lain sebagainya.
Dinamika pergerakan bangsa semakin massif seiring dengan itu pada tanggal 05 Oktober 1945 pemerintah mengeluarkan maklumat bahwasanya Badan Keamanan Rakyat (BKR) diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat alasannya cukup jelas karena operasional BKR hanya melindungi daerah setempat (bersifat lokal) sementara TKR (Tentara Keamanan Rakyat) melindungi segenap NKRI yang bersifat nasional dan menjadikan kota Yogyakarta sebagi Markas besarnya. Pembentukan TKR  bertujuan untuk mengatasi situasi yang mulai tidak aman, akibat kedatangan kembali tentara sekutu ke Indonesia setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, TKR terdiri dari TKR Darat, TKR Laut dan TKR Jawatan Penerbangan
Untuk memperluas fungsi ketentaraan dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjaga keamanan rakyat Indonesia, pemerintah Indonesia kemudian mengganti nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat pada tanggal 7 Januari 1946 berdasarkan Penetapan Pemerintah No.2/SD 1946.  Pada tanggal 25 Januari 1946 Pemerintah Republik Indonesia dibawah perdana mentri Sutan Syahrir mengubah Kementerian keamanan menjadi kementerian pertahanan, bersamaan dengan itu keluarnya maklumat perubahan nama TKR (Tentara keselamatan Rakyat) menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia). Di dalam maklumat itu ditegaskan bahwa tentara Republik Indonesia (TRI) merupakan tentara rakyat, tentara kebangsaan atau tentara nasional.Sebulan Kemudian pada tanggal 23 Februari 1946 dibentuklah panitia besar penyelenggara organisasi tentara. Tugas pokok panitia ini adalah membentuk peraturan tentang:
1. Bentuk kementerian pertahanan
2. Bentuk ketentaraan.
3. Kekuatan tentara.
4. Organisasi tentara..
5. Peralihan dari keadaan TKR kekeadaan susunan TRI.
6. Kedudukan laskar-laskar dari barisan-barisan bersenjata dari badan-badan ketentaraan yang bukan badan pemerintah.
Di lingkungan markas tertinggi, TRI kemudian disempurnakan dengan dibentuknya TRI Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan TRI Angkatan Udara yang dikenal dengan nama AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Dinamika zaman yang semakin maju namun tidak dengan negara Indonesia situasi semakin genting karena adanya aksi-aksi pihak tentara Belanda yang mengancam kehidupan dan kelangsungan negara Republik Indonesia. Untuk menghadapi situasi tersebut, diperlukan kekuatan tentara yang kompak dan bersatu padu. Sementara dalam kenyataannya, Indonesia masih menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan kekuatan bersenjata. Disamping tentara resmi TRI, ALRI,AURI masih ada lascar-laskar yang pada umumnya lascar tersebut lebih mementingkan partai/ideologinya dari pada bangsa Indonesia. Melihat kondisi tersebut pada tanggal 5 Mei 1947 Presiden Soekarno mengeluarkan suatu dekrit yang berisi tentang pembentukan organisasi tentara nasional. Panitia itu dipimpin oleh presiden soekarno dan setelah itu keluarlah penetapan Presiden tentang pembentukan organisasi tentara yang dikenal dengan sebutan (Tentara Nasional Indonesia). Sehingga, mulai tanggal 3 juni 1947, secara resmi telah diakui berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai penyempurnaan dari Tentara Republik Indonesia (TRI)




Kamis, 28 September 2017

Binar Rindu

Binar Rindu
Oleh: Panji Anugerah

Hujan Terus menggeruguti perasaan
terlintas wajah ibuku disetiap jalur pikiran
bolehkah aku bertamasya ke hatimu?
sekedar menanam benih kesetiaan

Rindu ini benar-benar jadi elegi
dari genitnya Nasihatmu, lembutnya belaimu
sehingga diselaraskan dengan sikap dan usiaku
rindu ini seperti embun, ntah darimana asal muasalnya
teduh dan menyejukkan

aku benar-benar ingin memeluk
binar-binar rindu ini
sampai waktu merekatkan kita
sampai bintang bercerita
sampai malam mengusik
sampai sepi merajuk
sampai nanti, sampai cintaku ini tak berkesudahan.


Selasa, 15 Agustus 2017

puisi: untuk indonesia



Elegi Indonesia
Penulis: Panji Anugerah

Indonesia… tiap detik aku selalu memikirkanmu
Merenungi setiap problema dibawah senja yang kini begitu panas
air matamu tumpah ruah, ketika melihat anakmu terus bercerai
memperebutkan warisan yang engkau tinggalkan.

Indonesia… tiap waktu aku selalu bersujud mengemis do’a
Merajut asa dan realita dengan hikmat
Agar anak-anakmu ini kembali dijalan-Nya
Meluruskan jalan hidup yang kini begitu keliru

Indonesia… angin malam ini begitu syahdu
Beriringan dengan elegi puisiku yang begitu mengiris hati
Mendengar celotehan anakmu yang tak dapat sekolah
Akibat mahalnya bahan pokok dan murahnya harga karet

Indonesia… hujan ini begitu merdu
Seperti deruh kaum buruh yang termarjinalkan
Merintih, terhimpit hingga rindu
Rindu akan cinta manusia yang mampu mensejahterakan

Indonesia, pelangi ini begitu sendu
Menatap binar matamu yang kini tua dan renta
Ingin rasanya melerai waktu
Tapi apa daya, anakmu masih sibuk dengan perang saudara

Indonesia…tolong jangan menangis kali ini, kumohon!
Hari ini dan hari ini….
aku ingin mendekapmu se-erat mungkin
melemparkan nada keluh ke rahim telingamu
Selamat ulang tahun cinta sejatiku, maaf bila kurang romantis!




Demokrasi sedang sakit



Demokrasi Kita Sedang Sakit
Oleh: Panji Anugerah
Bangkit dan bersatulah kaum pewaris peradaban, karena negri kita ini lagi carut marut dan Demokrasi yang di perjuangkan dengan darah dan air mata digadaikan dengan begitu saja dengan dalih ketentraman  rakyat tapi nyatanya itu hanyalah omong kosong belaka karena alasan itu hanya semata-mata untuk mempernyenyak tidur penguasa. Indonesia hari ini sudah jauh dari ideologi substansifnya, pancasila ditafsirkan dengan seenaknya saja di monopoli dengan sesukanya saja mungkin karena politik praktis telah masuk di dalamnya. Coba kita lihat adanya Perppu No 2 Tahun 2017  yang mana itu mengkerdilkan sifat dan fungsi-fungsi ormas.
Demokrasi kita sedang sakit kebebasan berpendapat yang mana telah di suratkan dalam UUD 1945 pasal 28 E (3) tidak berjalan sesuai fungsinya lagi. Mari kita amati orang-orang yang sungguh berniat untuk menegur para penguasa yang mungkin lalai dalam amanahnya malah dikatakan sebagai provokator, pengujar kebencian dan di sebut subversif. Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja salah satu kekayaan rakyatnya (Demokrasi) telah dikebiri, telah dirampas lagi dan lagi alasannya adalah untuk membina kerukunan.
Demokrasi diambang kematian, kenapa tidak? Kampus yang perannya sebagai tempat orang-orang yang peduli akan bangsa, kampus yang fungsinya sebagai tempat bebas berekspresi, bebas mengeluarkan pendapat telah di kekang, karena Mahasiswa saat ini dianggap sebagai orang-orang yang spratis dan selalu membuat onar.
Demokrasi kita sedang sakit, Mahasiswa di polisikan, Mahasiswa di pukuli dihantam layaknya durjana elit. Kaum kritis dihabisi, kaum perusak dihormati sistem mulai menjadi diktator ketika hukum tidak menjadi pelindung bagi orang-orang yang berjuang di jalan kebenaran
Demokrasi kita diambang kematian, kenapa tidak? Rezim hari ini sangat anti kritik, pola pikir yang bermental kapitalis telah tumbuh dibenak penguasa, lihat saja investor rakus telah datang dari segala penjuru untuk membumihanguskan kekayaan bumi pertiwi ini.
Wahai pewaris peradaban kita harus ambil bagian dalam masalah ini mari kita junjung Demokrasi karena pada prinsipnya kekuasaan ada ditangan rakyat. Janganlah menghambah pada ketakutan karena itu akan menambah barisan perbudakan, dan janganlah bersifat netral karena diam adalah tindak kejahatan. Ketika pemuda diam melihat suatu persoalan maka kehancuran suatu bangsa hanya menunggu waktu




Minggu, 02 April 2017

Negara Carut Marut?



 Negara Carut Marut? Dari Istana Asalnya?
Penulis (Panji Anugerah)
e-mail: Panjianugerahp@gmail.com

            Dengan mudahnya mereka menjual aset bangsa demi kepentingan personalia dan politik yang mereka anggap Tuhan. Sebuah fenomena yang jarang kita perlihatkan mereka saling lempar melempar demi bola kekuasaan hal yang sangat bodoh mereka tunjukkan kepada kita kaum awam ini. Mereka tidak malu lagi memperlihatkan secara transparansi tabiat perangai dan misi kotor itu. Segudang masalah mencuat kepermukaan yang berakhir tanpa solusi yang jelas dan tidak humanis. Seluruh rakyat kebingungan ditepi jalan yang memikirkan takdir hidup dan rindunya akan keadilan dan kemerdekaan yang hakikatnya adalah hak segala bangsa. Seluruh Mahasiswa berdiskusi di sudut-sudut kampus membicarakan solusi dan jalan terang untuk semua.
            Beginilah jika kekuasaan dijadikan alat penindas atau media eksploitasi kepada rakyat, carut marut di istana  tidak bisa di hindarkan lagi. Sebuah sistem dibentuk oleh regulator, rakyat semakin disudutkan, dipinggirkan oleh para kaum elitis dan hukum pun tergadai. Melihat situasi yang seperti ini segerombolan manusia yang cinta akan tanah air bersuara, memekik dengan penuh moral  di depan istana menuntut keadilan harus ditegakkan di bumi pertiwi ini satu harian penuh mereka melakukan aksi damai tanpa memikirkan hujan, panas, tapi nyatanya tidak membuahkan hasil, mereka pulang dengan tangan hampa, sedu sedan menyelimuti wajah mereka yang tampak malu akibat korban omong kosong penguasa pada saat pilkada lalu. Perjuangan belum berakhir mereka melakukan konsolidasi untuk memasifkan pergerakan yang tujuannya agar aspirasi diterima. Mendengar akan ada aksi lanjutan pihak istana mencari alternative supaya pergerakan itu gagal dan tidak sesuai rencana. Media dipermainkan sebagai propaganda politik berita hoax beredar dimana-mana orang yang konsolidasi, diskusi dinyatakan makar, sementara si penista masih berkeliaran dengan mobil dinasnya.  
               Rezim ini seolah-olah serampangan dalam mengelola negri ini, alergi kritik, dan miskin ilmu metaforik. Coba kita amati realita yang terjadi akhir-akhir ini Seperti Represifitas Aparat dan upaya pembungkaman gerakan yang menolak dengan keras diaktifan kembali si penista menjadi gubernur ini salah satu bentuk kepanikan rezim yang otoriter yang terindikasi adanya intervensi politik dalam penegakan hukum. Belum lagi masalah kendeng yang hingga memakan korban jiwa, komplitlah sudah permasalahan-permasalahan hingga tidak ada solusi yang berujung.
            Belum lagi masalah-masalah klasik yang tidak pernah kunjung terselesaikan seperti pengangguran (3,4 Juta Jiwa) dan  kemiskinan yang telah mencapai angka 73,19 persen sungguh pencapaian yang sangat memprihatinkan.itulah deskripsi permasalahan yang dialami rakyat secara langsung? Bagaimana dengan secara yang tidak langsung? Korupsi? Ya korupsi baru-baru ini rakyat digemparkan oleh kasus e-KTP yang mencapai angka yang sangat fantastis dan hingga kini belum terselesaikan secara terang-terangan, apalagi? Ya investor, investor  yang berhaluan kiri konon kabarnya telah memasuki negri ini, yang jika kita teliti secara seksama akan ada udang dibalik batunya.
Sudahlah, Rakyat memandatkan amanah kepadamu dengan tulus dan suci tapi kau balas dengan datangnya investor rakus nan tak peduli, rakyat memilihmu itu karena mereka percaya dengan kesederhanaan dan kerayaktanmu tapi kau kembalikan dengan keegoisan dan keserakahan partai politikmu, kami disini terombang-ambing dalam perahu yang engkau nahkodai kami takut permasalahan-permasalahan ini semakin terkuak disegala lini yang mengakibatkan konflik horizontal dan vertikal akan beredar kemana-mana.
            Politik dan Agama ingin engkau pisahkan ideologi Negara seperti Pancasila telah engkau kesampingkan demi terlindungnya sahabat karibmu itu. Berhentilah dan kembalilah kepada nawa citamu yang mana sewaktu dulu itu sebagai senjatamu untuk mengelabui rakyat-rakyat ini. Jika tidak bisa kembali, turunlah, mundurlah dengan legowo dan pastikan ini bukan masalah harga diri tetapi ini masalah nasib bangsa, martabat dan bumi pertiwi.